Beginilah Jadinya (Cinta)

Keadaan terminal Baranangsiang kini ramai sekali dipenuhi oleh ribuan penumpang yang datang dari berbagai penjuru kota. Bis-bis besar mulai berdatangan silih berganti. Para penumpang saling berebutan untuk naik-turun bis yang baru saja datang. Ya, liburan akhir tahun memang dijadikan momen oleh kebanyakan masyarakat Jakarta untuk berlibur. Dan di saat-saat seperti inilah waktu yang tepat bagiku untuk beraksi.

Perutku yang sudah sangat keroncongan, semakin membulatkan tekad untuk mengambil kesempatan itu. Jam 8 begini biasanya perutku sudah terisi dengan sebungkus nasi campur, kopi dan pisang goreng buatan warung Teh Ros. Namun sial, semuanya belum kesampaian.

Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu kini pun tiba. Kulihat seorang wanita yang turun dari bis jurusan Jakarta-Bogor.

“Wah, kebetulan nih. Kesempatan emas bagiku!”, pikirku.

Tas berwarna merah muda milik seorang perempuan itu kini menjadi sasaranku. Tanpa pikir panjang, aku mencoba mendekatinya di tengah-tengah ribuan manusia yang sedang berdesak-desakkan keluar masuk bis. Aku mencoba merunduk.

“dapat!” seruku dalam hati.

Segera saja setelah itu, dengan keahlian yang telah kudapat selama kurang lebih dua bulan, aku bisa lolos dari kerumunan dengan selamat. Lega sekali rasanya. Di kejauhan sana, tepatnya di TKP, kulihat seseorang yang menangis sambil meminta-minta tolong kepada petugas untuk mencarikan tasnya. Aku tak peduli.

“Yang penting, hari ini aku bisa makan sepuasnya,”ujarku.

“Tapi, kenapa perasaanku kacau-balau begini ya? Ah, masak gara-gara perempuan tadi sih? Ah, nggak mungkin!”

Kurugoh seluruh isi tas dan kudapatkan sebuah dompet yang berisi uang sebanyak 550 ribu rupiah, sebuah KTP, Kartu Mahasiswa, Kartu ATM serta sebuah foto seseorang yang anggun. Jantungku berdebar.

“Cantik juga ya. Hmm, kapan ya aku punya pacar secantik dia? Hehehe.”

“Kamu ini, copet kok tapi pengen dapat pacar secantik dia. Ngaca dong lu!” batinku berontak.

Sambil berjalan menuju warung Teh Ros yang letaknya cukup jauh dari terminal, aku memperhatikan isi dompet wanita tersebut. Kulihat kartu identitasnya, namanya, Rini Puspandari Dewi. Seorang mahasiswi kedokteran Universitas Indonesia. Umurnya 22 Tahun. Alamatnya, Bogor Raya Permai K-7.

“Wih, FK UI. Berarti dia pintar ya! Kenapa dulu aku nggak kepikiran untuk kuliah ya? Padahal, dulu kan aku juga pintar! Dulu… Ya sejak aku memilih duniaku sebagai seorang yang berjiwa bebas.”

Memang benar, dulu aku tergolong anak yang pintar dan berjiwa sosialis. Bahkan, nilai Rapotku di kelas satu SMA adalah yang terbaik di sekolahku, SMAN 1 Klaten. Teman-temanku banyak. Tak sedikit dari mereka yang percaya akan kedermawananku.

“Hah. Itu dulu. Mana mungkin kamu bisa kembali seperti dulu?”, gumamku.

Sejak kematian kedua orang tuaku enam tahun yang lalu. Kehidupanku jadi tak menentu. Aku jluntrung tak jelas ke mana. Aku panik, bingung, sedih, marah, frustasi hingga akhirnya aku mendarat di Bogor setelah kebingungan atas semua situasi itu. Enam tahun berlalu, lantas membuat diriku menjadi semakin tak terarah. Hingga akhirnya, aku berprofesi sebagai copet demi mencukupi kebutuhan perutku sehari-hari.

“Andai, sekarang ayah-ibu masih ada..”, lirihku sambil berangan-angan.

Lamunanku terhenti ketika sebuah bis besar hampir saja menabrakku dari arah belakang. Beruntung, aku masih bisa menghindar.  Akhirnya, sampai juga aku di warung Teh Ros.

“Teh, kopinya hiji.”

“Ya”

Kurogoh lagi lebih dalam tas merah muda milik Dewi dan kutemukan sebuah buku catatan miliknya. Segera saja kubuka lalu kubaca catatan-catatan miliknya.

“Makna Islam. Islam, ialah selamat. Berasal dari kata Salam yang artinya selamat/keselamatan. Setiap muslim-muslimah yang memiliki iman dan takwa, Allah menjamin balasan Surga baginya. Karena Allah cinta terhadap hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa. Maka dari itu dengan Islam, disertai dengan iman dan takwa, akan membawa kita menuju keselamatan dunia dan akhirat.”

Kurenungi beberapa kalimat yang baru saja kubaca. Dan kulanjutkan dengan membaca beberapa kalimat yang lain.

“Ibadah-ibadah penenang jiwa. Shalat wajib berjama’ah, shalat malam, shalat dhuha dan zikrullah. Allah berfirman, Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

“Wah, benar juga. Sudah 6 tahun ini aku tidak pernah shalat.”, ucapku lirih

“Ini kang kopinya.”

Nuhun

“Lagi ngelamunin apa kang?” tanyanya dengan penuh penasaran

“Ehmm, itu,  apa… Shalat,” jawabku gagap.

“Tumben ngomongin shalat, akang kan jarang shalat. Itu apaan kang?”

“Eh, teteh, tau aja. Engga, punya temen. Dia nitip sekedap.”

“Oh, begitu…”

“Ya sudah teh, aku pergi dulu,”

“Lho, kopinya?”

“Nanti saja teh, nanti aku kembali lagi!”

Tak terpikirkan sebelumnya olehku bahwa aku akan melangkahkan kakiku menuju masjid. Ya, masjid besar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari warung Teh Ros. Aku melangkah hingga akhirnya aku sampai di pelataran masjid, lalu duduk bersandar di tiang masjid sebelah selatan, mengarah ke dalam.

Kini, rasa penasaranku semakin besar untuk membaca catatan-catatan yang menurutku luar biasa, milik Dewi. Halaman demi halaman, kalimat demi kalimat terus aku pantengi tanpa ada yang terlewat. Hingga sampailah aku, pada kutipan bait puisi yang menggetarkan seluruh isi hatiku.

 

Ayah, bunda.

Bagaimana kabar kalian di sana?

Apakah kalian sedang berada dalam taman-taman Surga milik-Nya?

Ataukah kalian sedang bersedih karena siksa dari-Nya?

Jangan kuatir ibu, ayah.

Karena kalian adalah pribadi-pribadi yang berjiwa baik

Yang tiada hari tanpa mendidik.

Yang tiada hari tanpa mengasihi dan menyayangi.

Aku yakin akan suatu pesan yang engkau sampaikan kepadaku

di kala kalian masih berada di sisiku.

Nak, 3 amalan yang akan membawa manfaat yang tidak akan putus

Ketika malaikat Izrail telah diutus.

Yaitu, Ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dan anak-anak yang shaleh/shalehah.

Ya, ibu-ayah, janganlah kalian kuatir

Karena tiada hari yang kulewati,

tanpa doa yang kubacakan untuk ibu dan ayah.

Tiada hari yang kulewati,

Tanpa perbaikan diri menuju pribadi yang shalehah.

Ya, Rabbi, ampunilah dosa-dosa mereka.

Dan tinggikanlah derajat mereka di sisi-Mu.

Serta golongkah mereka agar termasuk dalam golongan penghuni-penghuni Surga-Mu.

Amiin.

 

Tak terasa, air mata mengalir membasahi pipiku. Segera kusujudkan diri, memohon ampun atas segala kesalahan dan dosa yang telah kuperbuat. Sambil memohonkan ampun pada Sang Ilahi, atas dosa-dosa kedua orang tua, dan memohonkan mereka agar termasuk dalam golongan penghuni surga.

“Ampuni aku dan kedua orang tuaku ya Allah…”lirihku dalam sujud.

Kini, hari-hariku berubah drastis. Aku mulai membersihkan diri. Merubah cara berpakaian, merapikan rambut yang biasanya acak-acakan dan lain sebagainya. Shalat yang sudah enam tahun tidak pernah aku laksanakan, kini mulai aku biasakan. Berhari-hari, kubaca terus catatan milik Dewi, yang setiap kali kubaca, menanamkan inspirasi serta motivasi baru bagiku. Perlahan tapi pasti, aku mulai kagum dengan sosok yang bernama Dewi ini.

“Mungkin, ia memang dewi dari surga yang diutus oleh-Mu Rabbi untukku.”

Aku tersenyum sendiri. Geli melihat hayalanku yang terlampau jauh.

Kemudian, terpikirkan olehku bahwa aku harus mengembalikan tas beserta barang-barang isinya kepadanya. Namun, bagaimana caranya? Apakah aku harus ke rumahnya? Tidak, aku tidak berani untuk mengembalikannya langsung ke rumahnya. Sesaat kemudian.

“Ya benar! Ia pasti akan kembali ke Jakarta. Saat itulah, aku harus bertemu dengannya dan mengembalikan tas miliknya.”

Musim liburan sudah hampir habis, hari di bulan Januari kini telah berada pada angka yang ke-16. Dan semenjak itu, aku selalu berada di terminal untuk menunggu dan berharap agar dapat bertemu dengannya. Perkara mencari seseorang di tengah banyaknya orang memanglah tidak mudah. Namun, aku telah memiliki banyak koneksi yang bisa menjadi mata ketiga, keempat bahkan keseratus. Ya, kusiarkan kepada teman-temanku bahwa aku akan mencari seorang perempuan berjlbab yang wajahnya seperti yang ada di foto ini. Ya, foto dalam dompetnya.

Hari demi hari berlalu, hingga di hari ketiga penantianku selama di Terminal, salah satu temanku memberikan suatu tanda yang sudah kami janjikan sebelumnya.

“Cuiuiit!”, seru salah seorang temanku.

Siulan itu terdengar jelas di telingaku, segera kupasang mata, melihat ke segala arah. Ternyata, benar, temanku menunjuk ke seorang perempuan berkerudung biru yang sedang duduk menunggu sebuah bis datang. Kesempatan emas pun tiba.

Dengan berpakaian rapi sebungkus kresek hitam yang agak besar berisi tas miliknya, aku mendekatinya. Kulihat ada sebuah kursi yang kosong tepat di sebelah kanannya. Aku duduk.

“Mau ke mana mbak?” tanyaku berlagak sopan.

“Mau ke Jakarta,”

“Oh, biasanya bis jurusan Jakarta jam segini belum pada datang mbak. Mungkin sekitar seperempat jam lagi.”

“Ya, saya tahu. Saya cuma tak ingin terlambat. Anda sendiri mau ke mana?”

“Sama, saya juga mau ke Jakarta. Cuma, saya lagi nunggu teman.”

Jantungku berdebar luar biasa. Mencoba untuk menenangkan hati sambil memikirkan kata-kata seperti apa yang harus kulanjutkan.

“Mbak kuliah ya?”

“Ya”

“Di UI ya mbak?”

“Lho, kok tahu sih?”

“Iya, wajah-wajah intelektual seperti mbak ini, pasti kuliahnya di UI.”

“Ah, anda bisa saja. Anda sendiri?”

“Oh, saya sudah lulus mbak, saya jadi pengacara sekarang. Alhamdulillah, pengangguran banyak acara.”

“Haduh, anda ini pelawak ya? Bisa saja bikin lucu,”

“Hehehe.”

Semakin lama, aku semakin bisa mengeluarkan kata-kata untuk dapat mengobrol dengan Dewi. Walaupun kulihat, ia sangat jaga jarak dan hati-hati berbicara. Bahkan, ia sama sekali tidak pernah melihat wajahku ketika berbicara. Aneh juga.

“Mbak tahu nggak, beberapa hari yang lalu, saya dengar ada copet yang insyaf’,”

“Oh ya? Bagaimana ceritanya?”

“Saya juga kurang begitu tahu mbak, yang jelas dari cerita yang beredar, dia insyaf karena membaca buku catatan yang dia ambil,”

“Buku catatan? Dua minggu yang lalu pun saya kecopetan di sini. Semuanya amblas. Huh, mungkin memang takdirnya seperti itu. Terus, apa yang terjadi sama copet itu?,”

“Katanya sih, sekarang dia jadi rajin ibadah, rajin shalat, bahkan dia jadi suka menolong penumpang yang membawa banyak barang ke dalam bis,”

“Anda tahu dari mana?”

“Saya sering pulang-pergi dari terminal sini mbak, jadi saya cukup kenal dengan beberapa kernet, sopir, petugas, bahkan dengan para penjual di sini”

Bis pun datang, dan aku mengikutinya hingga aku juga mendapatkan tempat duduk di sebelahnya. Lama sekali ia terdiam semenjak obrolan pendek di terminal. Mungkin bosan mendengar ceritaku yang tidak pas dihatinya. Hatiku agak cemas. Tapi, aku semakin penasaran, bisakah aku mengajukan pertemanan dengannya? Ah, tidak mungkin. Lalu bagaimana caranya? Hmm.

“Mbak, mau nggak jadi teman saya?”

“Maksud kamu?” jawabnya singkat.

“Ya, teman seumur hidup saya, mbak.” jawabku pelan.

“Apa sih maksudmu?”

“Maksud saya, maukah mbak Dewi menikah dengan saya?”

Raut wajahnya langsung berubah, sekilas ia menatap wajahku, mukanya merah padam. Biarlah, dihatiku aku sangat menantikan apa yang akan dijawabnya. Nekat, itu memang tabiatku. Biarlah Tuhan yang menentukan nasibku.

Tak lama kemudian ia berdiri, lantas mencoba untuk turun dari Bus yang saat ini sedang melaju di bilangan Cikampek. Aku mengejarnya.

“Mbak Dewi, tunggu sebentar!”

“Ini barang-barangmu yang kucuri waktu itu. Tidak ada yang berubah dari tas itu. Justru, dari situlah, Allah menurunkan hidayah bagiku untuk kembali ke jalan kebenaran. Terima kasih mbak. Dan maaf jika saya telah membuat mbak menangis ketika itu.”

“Setiap manusia, pasti memiliki dosa. Aku turun, karena aku tak ingin tergoda dengan rayuan nafsumu.”, jawabnya tegas.

“Maafkan aku mbak. Ya, sudah, mbak tidak perlu turun. Biar saya saja yang turun. Terima kasih mbak. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Kira-kira begitulah akhir perjalanan kisah cintaku episode pertama. Setelah 5 tahun terlewati, kini aku telah menjadi guru ngaji. Ya, mengingat dahulu kala aku adalah anak pesantren, maka alangkah baiknya kumanfaatkan ilmu yang telah kudapatkan.

Dan benar, Allah memang sangat penuh dengan kejutan. Dari tidak ada, menjadi ada, kembali tidak ada dan yang tidak disangka-sangka kini menjadi ada. Ya, saat ini aku telah resmi menjadi seorang suami dari Rini Puspandari Dewi. Ya, Dewi. Kisah-kisah hidupku yang kutambahkan pada buku catatannya ternyata telah menggugah hatinya. Dan siapa nyana. Beginilah jadinya. Alhamdulillah.

 

Diselesaikan di Sidoarjo, 2010

Mirza Ramadhana Putra

Dibuka kembali dari arsip yg telah lama tersimpan di laptop.

Kustomisasi Hardware

Berikut ini ialah cara-cara untuk mengatur atau meng-kustomisasi beberapa perangkat keras seperti mouse dan keyboard. Berikut akan ditampilkan juga langkah-langkah untuk melihat/mengecek kapasitas Harddisk yang terpakai.

I. Kustomisasi Keyboard

a. Buka Control Panel pada menu Start

b. Klik Keyboard

Kecepatan ketikan dapat diatur dengan mengubah Repeat Delay dan Repeat Rate. Cursor blink rate berfungsi untuk mengatur kecepatan kedipan cursor.

Untuk melihat keyboard yang terinstall dan yang terpakai klik hardware pada menu bar.

II. Kustomisasi Mouse

a. Klik Mouse pada Halaman Control Panel

Setelah itu akan muncul kotak dialog dengan lima menu bar di antaranya Buttons, Pointers, Pointer Option, Wheel dan Hardware.

Jika ingin merubah aturan klik kiri dan kanan silahkan klik kotak switch primary and secondary buttons

Untuk mengatur kecepatan respon klik mouse dapat diatur pada kotak Double-click Speed dengan mengatur Speed-nya ke kiri atau ke kanan.

Kemudian, pada kotak ClickLock, kita dapat mengatur kemudahan kita untuk dapat mengeblok data/file/tulisan tanpa harus menahan tombol kiri mouse dengan lama.

Pada menu bar Pointers kita dapat merubah tampilan dari mouse, seperti mengubah bentuk pointer.

Kemudian, pada menu Pointer Options kita dapat memberikan efek-efek tambahan pada pointer seperti efek bayangan(Display pointer trails), meletakkan pointer pada default button dalam sebuah kotak dialog(Snap to), kecepatan gerak pointer(Select pointer speed), menghilangkan pointer ketika sedang mengetik(Hide pointer while typing), dan cara  cepat untuk menunjukkan posisi pointer(Show location of pointer…)

Pada menu Wheel kita dapat mengatur jumlah baris/halaman yang ingin kita scroll baik secara horizontal maupun vertical.

III. Spesifikasi Komputer

Untuk melihat spesifikasi komputer, kita dapat meng-klik System pada Control panel maka akan muncul halaman seperti ini.

Sedangkan untuk mengetahui kapasitas salah satu Hard drive dalam komputer kita caranya tinggal meng-klik kanan pada salah satu hard drive pada My Computer. Maka akan muncul kotak informasi seperti ini:

Demikianlah beberapa langkah-langkah untuk dapat merubah atau mengatur tampilan atau fungsi dari Mouse dan Keyboard. Semoga dapat menjadi media pembelajaran bagi kita semua.

Salam

 

Agronomist

Agronomy is the science and technology of producing and using plants for food, fuel, fiber, and reclamation. Agronomy encompasses work in the areas of plant genetics, plant physiology, meteorology, and soil science. Agronomy is the application of a combination of sciences like biology, chemistry, economics, ecology, earth science, and genetics. Agronomists today are involved with many issues including producing food, creating healthier food, managing environmental impact of agriculture, and creating energy from plants. Agronomists often specialize in areas such as crop rotation, irrigation and drainage, plant breeding, plant physiology, soil classification, soil fertility, weed control, insect and pest control.

Due to the continued growth of the global population—and the consequent expanding need for study of food crops and agriculture in general—the outlook for agronomy and agronomists is excellent. Past agricultural research has created higher yielding crops, crops with better resistance to pests and plant pathogens, and more effective fertilizers and pesticides. Research is still necessary, however, particularly as insects and diseases continue to adapt to pesticides and as soil fertility and water quality continue to need improvement.

Emerging biotechnologies will play an ever larger role in agricultural research. Scientists will be needed to apply these technologies to the creation of new food products and other advances. Moreover, increasing demand is expected for biofuels and other agricultural products used in industrial processes. Agricultural scientists will be needed to find ways to increase the output of crops used in these products.

Agronomists will also be needed to balance increased agricultural output with protection and preservation of soil, water, and ecosystems. They increasingly encourage the practice of sustainable agriculture by developing and implementing plans to manage pests, crops, soil fertility and erosion, and animal waste in ways that reduce the use of harmful chemicals and do little damage to farms and the natural environment.

Agronomists career options are expanding rapidly with possible ties with golf landscaping including topsoil analysis and drainage conditions. They often work in conjunction with landscape architects and engineers to determine the best soil qualities/conditions to suit the site specifications.

Climate Change

Climate change Climate change is a big issue for WWF because it affects everything we do. 01.01.2007 Image No: 205915 A warming planet alters weather patterns and water supplies, seasonal growth for plants and ways of life for people and wildlife. The impacts are already being felt all over the world. And it will get worse. There’s lots we can do, but not much time. That’s why WWF is taking urgent, positive action to: Limit climate change – with the disappointing lack of a firm international climate deal to date, it’s vitally important that we work urgently to control global warming. See all about our climate change campaigns. Protect wildlife and people – those already affected and those most vulnerable to the inevitable future impacts of climate change must be helped to cope and adapt. The climate numbers that matter most… The science says we need to keep global warming below 2º C (compared to pre-industrial levels), otherwise we risk uncontrollable changes to the way our planet works – and that means serious threats to a third of all species on Earth. To keep temperatures down, we have to cut greenhouse gas emissions drastically – at least 80% by 2050, with a more immediate target of 40% by 2020. If, like us, you want future generations to enjoy the beauties of our natural world, it’s vital that we all pull together to tackle climate change today.

Berkarya untuk Galuga

“Masa muda, masa yang berapi-api”, begitulah bang Rhoma melukiskan pemuda dalam lagunya. Begitu pula Bung Karno pernah berpidato, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang Dunia.”. Bung Karno pun telah menyadari betapa pentingnya peran pemuda dalam berkarya, bahkan hingga dapat “Mengguncang Dunia”. Contoh lainnya, ialah ketika para pemuda memaksa Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, sungguh, semangat para pemuda telah meruntuhkan keragu-raguan bung Karno beserta golongan tua lainnya untuk memproklamirkan kemerdekaan. Begitulah gambaran pemuda di masa lalu. Lantas, bagaimana gambaran pemuda zaman sekarang? Menurut saya, tak kalah hebatnya. Hanya saja, karya-karya pemuda di zaman ini kalah terekspos dibandingkan topik-topik seperti politik, korupsi, dan kejelekan-kejelakan Indonesia yang tampak “dibangga-banggakan”.

Oke, tidak baik kalau saya juga menjelek-jelekkan media dan yang lainnya. Sekarang izinkan saya bercerita sedikit pengalaman kami, Etoser Bogor, dalam membina adik-adik SD di desa Galuga.

Desa Galuga, merupakan daerah yang terletak di pinggiran Kabupaten Bogor dan menjadi tempat pembuangan akhir sampah dari seluruh daerah Bogor. Yang memprihatinkan adalah kondisi warga di sekitar TPA tersebut. Memang, dahulunya, masyarakat Galuga mayoritas bekerja sebagai petani, namun semenjak didirikannya TPA Galuga banyak transmigran yang berpindah ke daerah tersebut untuk menjadi pemulung, dan akhirnya warga asli pun ikut-ikutan berprofesi sebagai pemulung. Dilihat dari segi pendidikannya juga sangat memprihatinkan, mayoritas warganya (sekitar 80%) hanya menjadi lulusan SD. Wajar saja, selain jaraknya yang jauh dari pusat kota, sarana dan prasarana pendidikan di desa ini pun sangat minim, hanya terdapat satu sekolah dasar dan satu sekolah menengah pertama dan satu satu madrasah tsanawiyah.

Untuk itulah kami, Etoser Bogor, tergerak untuk memberikan dan berbagi manfaat kepada masyarakat, khususnya kepada adik-adik SDN Dukuh 2 Galuga. Walaupun tidak banyak yang kami lakukan, tapi kami berusaha untuk menularkan pengalaman, ilmu, dan semangat kami. Seperti mengajar bahasa inggris, mewarnai, berhitung cepat, pawai lingkungan, membuat kerajinan tangan, berlatih puisi, menyanyi lagu daerah, belajar menari daerah dan sejumlah program-program kegiatan lainnya syukur alhamdulillah telah terlaksana. Senang rasanya dapat berbagi ilmu dengan mereka. Walaupun, setiap hari Sabtu selama kurang lebih 6 jam kami harus meluangkan waktu, tidak membuat surut semangat kami untuk terus mengajar dan berdedikasi di sana. Nampaknya saja kegiatan yang kami lakukan tidak terlalu berdampak besar terhadap perkembangan pendidikan dan ekonomi secara Nasional. Namun, di sinilah titik awal perubahan itu. Bayangkan, hanya dalam jangka waktu tiga tahun program Sekolah Desa Produktif telah menjamur di sembilan wilayah di tanah air. Belum lagi partisipan-partisipan lainnya yang juga ikut melaksanakan kegiatan pembinaan semacam ini. Bisa jadi, sekarang belum terlalu terasa manfaatnya, tapi dalam waktu sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan akan muncul bibit-bibit baru yang berkualitas dan berkuantitas hasil binaan para pemuda zaman sekarang.

Memang, seharusnya pemerintah memberikan perhatian perhatian lebih terhadap permasalahan ekonomi dan pendidikan di desa ini dan desa-desa serupa lainnya di tanah air. Namun, tidaklah tepat jika kita terus menerus menyalahkan pemerintah tanpa melakukan aksi apa-apa. Lebih baik kita bergerak untuk melakukan sesuatu lalu bersama-sama masyarakat menyelesaikan permasalahan yang ada. Ingat pesan Aa’ Gym, mulai dari yang kecil, mulai saat ini, dan mulai dari diri sendiri. Nah, kalau kita tidak mau memulai, lantas, siapa lagi?

 

 

 

 

 

Mirza Ramadhana Putra/Etoser Bogor 2011

Agronomi dan Hortikultura IPB 2011

Tak Perlu Takut Kuliah di Jepang Pasca-Ledakan Reaktor Nuklir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Minat pelajar Indonesia untuk mempelajari bahasa Jepang masih tetap tinggi meskipun dari sisi kunjungan fisik memang mengalami penurunan pascaledakan reaktor nuklir di negeri sakura itu, kata Koordinator Jepang-Indonesia Economic Forum, Richard Susilo.

“Guna lebih meyakinkan pelajar dan masyarakat Indonesia untuk belajar langsung ke Jepang, maka pusat informasi kami mendatangkan sebanyak 20 siswa dari perwakilan sekolah bahasa di Jepang ke Indonesia,” kata Richard yang juga Penyelenggara Pusat Informasi Sekolah ke Jepang, di sela acara pameran pendidikan Jepang, di Jakarta, Sabtu.

Ia mengatakan siswa dari perwakilan sekolah di Jepang akan memberikan testimoni bagaimana kondisi saat ini pascagempa bumi yang menyebabkan sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan.

Ketakutan masyarakat dari luar negeri untuk datang ke negeri sakura itu pascaledakan reaktor nuklir sesungguhnya berlebihan sebab kekhawatiran akan radiasi dari radioaktif bisa diatasi oleh ahli-ahli di negara tersebut, katanya.

“Tidak perlu khawatir akan bahaya radiasi sebab masih dalam ambang batas yang wajar, yaitu 1 microsifert satuan nuklir,” ujar Richard Susilo.

Ditemukan Partikel Neutrino yang Melampaui Kecepatan Cahaya

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah ilmuwan di Swiss mengungkapkan bahwa dari hasil penelitian mereka selama bertahun-tahun, mereka menemukan sebuah partikel kecil yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya dan melawan hukum alam. Demikian dilansir CNN, Jumat (23/9/2011).

Para ahli fisika ini mengatakan jika partikel yang berbentuk neutrinos ini dikirim di bawah tanah dari laboratorium di Swiss dan Italia berjarak 730 kilometer dan sampai kurang dari satu detik jika di banding dengan kecepatan cahaya yang dipancarkan dalam jarak yang sama.

Laporan ini dipublikasikan oleh lembaga peneliti yang bekerja di sebuah proyek bernama eksperimen Opera yang berbasis di European Organization for Nuclear Research yang dikenal dengan nama CERN.

CERN adalah tempat dari Large Hadron Collider. “Saya kaget dan sungguh di luar dugaan,” demikian ujar Antonio Ereditato, juru bicara proyek Opera di Universitas Bern di Swiss.

Meski demikian, para peneliti yakin jika apa yang mereka lakukan sudah benar. Penemuan ini tentu saja menantang teori Albert Enstein tentang relativitas dan teori klasik yang mengatakan tak ada satupun yang bisa mengalahkan kecepatan cahaya.

“Ini adalah penemuan yang luar biasa jika benar,” kata Professor Neville Harnew, kepala peneliti partikel fisik di Oxford University. Ia menambahkan, jika peneliti konsisten menunjukkan kebenaran itu maka ini adalah bentuk revolusi fisika seperti yang suda dikenal selama ini.

Sumber

Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Powered by WordPress | Designed by: best suv | Thanks to trucks, infiniti suv and toyota suv